Tampilkan postingan dengan label Tokoh Kito. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Kito. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Mei 2017

DPD Perindo Muratara Siapkan Kader Berkualitas dan Militansi Melalui ToT dan LKD


Rupit - SeputarKito.com, partai Perindo melalui pengurus Dewan Pengurus Daerah (DPD) Kabupaten Muratara mengadakan Training of Trainer (ToT) dan Latihan Kader Dasar (LKD) bagi pengurus disemua tingkatan, baik DPD DPC Organisasi sayap maupun DPRT dan eksternal partai Perindo.

Bertempat di Gedung Serba Guna KBM Kelurahan Muara Rupit, Kabupaten Muratara, Acara ToT dan LKD Perindo Muratara dibuka langsung ketua DPW Perindo Sumsel, Febuar Rahman, SH dengan mengusung tema “Melalui ToT dan LKD DPD Perindo Muratara, Kita Tingkatkan Kualitas dan Militansi Kader Menuju Kemenangan Pileg Dan Pilpres Tahun 2019”, Rupit, Minggu, 7 Mei 2017.

Dalam pembukaan ToT dan LKD DPD Perindo Muratara, Ketua DPW Partai Perindo Sumatera Selatan (Sumsel) Febuar Rahman berpesan kepada 107 orang peserta untuk  bersungguh-sungguh dalam mengikuti seluruh materi yang diberikan. Sebagai partai yang baru berdiri dan terus berkembang, Perindo membutuhkan pengurus dan kader militan yang siap membesarkan partai.

“Kita mempersiapkan kader yang berkualitas untuk memenangkan pertarungan di 2019. Karena itu kita harus mempersiapkan sumber daya kader yang bagus dan benar-benar menjadi pejuang,” terangnya.

Senada dengan Febuar, ketua DPD Perindo Muratara, Afrizal, S. Ag, menyatakan kepada kader Perindo Muratara bahwa pentingnya mengikuti ToT dan LKD ini. Baginya, proses ini merupakan tahapan kader untuk mengenal lebih dalam tentang visi-misi, AD & ART dan GBPP (Garis Besar Perjuangan Partai) Perindo. Lanjutnya, sehingga kader berkesempatan mendapatkan tiket atau persyaratan mencalonkan diri untuk mencalonkan diri sebagai dewan maupun kepala daerah.

“Proses ini penting untuk pemahaman kader guna mengenal lebih dalam lagi tentang visi-misi partai, AD & ART dan GBPP partai Perindo sehingga berkesempatan untuk mendapatkan tiket mencalonkan diri sebagai dewan maupun kepala daerah,” katanya.


Lanjut Afrizal, ToT dan LKD ini bagian dari upaya membangun partai untuk menjadi besar. Menurutnya, dalam kesempatan ini merupakan proses peningkatan kualitas dan menjadi sosok militansi untuk partai Perindo menuju kemenang Pileg dan Pilpres 2019 mendatang.

“Untuk membagun partai yang besar diperlukan kader yang berkualitas dan memiliki jiwa militansi sehingga kemenangan pada Pileg dan Pilpres 2019 mendatang tercapai,” ajaknya.


Pemateri dalam ToT ini, membekali para peserta dengan sejumlah materi, di antaranya materi tentang kepartaian yang meliputi AD/ART hingga visi dan misi Partai Perindo, materi tentang membangun kepribadian, materi tentang kebangsaan dan mikro pengkaderan.

Laporan: Supriyadi
Editor: Dwi Irmayanti

Jumat, 21 April 2017

RA. KARTINI, TAFSIR AL QUR'AN DAN KH. SALEH DARAT

SeputarKito.com, Kisah tentang bagaimana KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat) melukiskan sosok Raden Ajeng Kartini dalam Kitab Tafsir Faidlur Rahmanmasih selalu menjadi pertanyaan. Apakah itu hanya sebuah sejarah lisan yang tidak dapat dibuktikan? Ternyata fakta ini mulai nyata dan dapat dilacak dari karya Mbah Sholeh Darat.

Orang seperti Kartini dengan segala kemewahan hidup butuh pencerahan agama. Apalagi keluarga Kartini dikenal sebagai keluarga santri-priyayi yang tekun dalam beragama dan dedikasi kuat dalam menjalankan roda pemerintahan. Itu semua demi rakyat Bumiputra (demikian Kartini selalu menyebut Indonesia dengan istilah Bumiputra).

Alhasil, ketika Kartini belajar al-Qur’an terasa hampa, karena ia hanya belajar mengeja dan membaca. Isi kandungan al-Qur’an tidak dapat diserap. Ia mengibaratkan bahwa belajar al-Qur’an dengan model demikian akan menjadikan orang Islam tidak mengetahui mutiara hikmah al-Qur’an. Ketika ia meminta guru ngajinya mengartikan al-Qur’an justeru Kartini dimarahi. Kartini mulai gelisah dan sangat gelisah.

Ia berontak akan belum sempurnanya Islam yang dipeluknya jika ia belum tahu isi al-Qur’an. Bahasa asing seperti Belanda, Prancis dan Inggris saja ia lahap dengan baik, maka bahasa agamanya, yakni Arab juga ia berusaha pelajari. Namun Kartini tidak menemukan guru bahasa Arab atau guru tafsir. Itulah Kartini, seorang perempuan muda yang tidak kenal lelah belajar bermasyarakat dan beragama.

Maka saat Kartini masih berumur 20 tahun sudah mengungkapkan kegelisahan itu dalam suratnya kepada Stella EH Zeehandelaar tertanggal 6 November 1899: “Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Disini orang juga tidak tahu Bahasa Arab. Disini orang diajari membaca al-Qur’an, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya”.

Begitu dahsyatnya Kartini melakukan kritik kuat terhadap pembelajaran agama di akhir abad 19 itu. Dan itu menjadi bukti bahwa Kartini sangat peduli terhadap kuatnya minat untuk belajar isi agama yang terkandung dalam al-Qur’an. Dan saat itu belum ada tafsir al-Qur’an yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Melayu atau Jawa. Wajar, jika Kartini menjadi penasaran!

Kartini masih melanjutkan kalimat dalam surat itu: “Sama halnya seperti kamu mengajar saya membaca buku bahasa Inggris yang harus hapal seluruhnya, tanpa kamu terangkan maknanya kepada saya. Kalau saya mau mengenal dan memahami agama saya, maka saya harus pergi ke negeri Arab untuk mempelajari bahasanya disana. Walaupun tidak saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati. Bukankah demikian Stella?”

Kalimat itu jelas menandakan tak berdayanya seorang Kartini akan bahasa Arab. Ia dibuat pusing oleh bahasa Arab dan dibuat penasaran oleh agamanya yang berbahasa Arab. Maka ia rindu dengan negeri Arab untuk belajar kesana. Dan itu sangat tidak mungkin, sebab harapannya ke Belanda yang ia kuasai bahasanya saja gagal dan digantikan Agus Salim. Maka ia menanti kehadiran orang Jawa yang pernah di negeri Arab agar bisa menjelaskan isi al-Qur’an.

Siapakah dia? Mbah Sholeh Daratlah yang mampu membuka wawasan Islam Kartini. Al-Qur’an yang demikian suci dibuka maknanya sehingga Kartini memahaminya. Mengenai waktu kapan Kartini bertemu Mbah Sholeh Darat, penulis lebih sepakat memilih pertemuan itu sudah jauh hari sebelum 1901 (dua tahun pernikahan Kartini). Sebagaimana pendapat Moesa Mahfudz yang dikutip Abdullah Salim bahwa pertemuan Kartini itu diperkirakan 1901. Tapi kemungkinan besar itu pertemuan yang kesekian kalinya.

Sebab surat Kartini di usianya 20 tahun (1899) sudah paham tentang ajaran al-Qur’an dengan tidak bolehnya orang Belanda menyalahkan ayahnya yang melakukan poligami. Bahkan Kartini mengutip ajaran Islam tidak melarang beristri empat. Ini menunjukkan sebelum surat itu ditulis, Kartini sudah pernah belajar tentang kandungan al-Qur’an surat an-Nisa ayat 3: “...Fankihu ma thaba lakum minan nisa’ matsna watsulatsa wa ruba’...; Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi, dua, tiga atau empat”.

Tafsir Faidlur Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malikid Dayyan jilid satu itu ditulis selama sebelas bulan oleh Mbah Sholeh Darat (20 Rajab 1309 H/19 Februari 1892 sampai 19 Jumadal Ula 1310 H/9 Desember 1892 M). Jilid pertama ini berjumlah 503 halaman dengan bahasan surat al-Fatihah dan surat al-Baqarah. Kemudian kitab tafsir itu dicetak oleh percetakan HM Amin Singapura pada 27 Rabiul Akhir 1311 H/7 November 1893. Oleh Amirul Ulum ditegaskan bahwa pertemuan Kartini dan Mbah Sholeh Darat sudah pernah dilakukan sebelum 1892, tepat sebelum Kartini dipingit.

Seorang suami dari buyut Mbah Sholeh Darat bernama Agus Tiyanto (sering menyebut namanya Abu Malikus Salih Dzahir) menjelaskan bahwa sumber data Kartini pernah nyantri dengan Mbah Sholeh Darat ini awalnya ditemukan oleh Moesa Machfudz (dosen sejarah UGM) berdasarkan catatan pribadi murid Kyai Sholeh Darat yaitu KH. Ma'shum Demak. Dan itu dimuat dalam Majalah Gema Yogyakarta Nomor 3 tahun 1978.

Adapun tokoh-tokoh generasi awalyang melacak dan meneliti riwayat Mbah Soleh Darat pertama adalah HM. Ali Cholil (cucu Kyai Soleh Darat), kemudian dilanjutkan Abdullah Salim (Universitas Sultan Agung), Danuwiyoto (Dosen IAIN Sunan Kalijogo) dan Muchoyyar (IAIN Walisongo). Yang menulis buku tentang Mbah Sholeh Darat pertama adalah Abdullah Salim dalam tulisan Arab Pegon dan dilanjutkan Agus Tiyanto dengan kemudian adanya revisi tambahan dan editing dari Muhammad Ikhwan.

Agus Tiyanto menambahkan  bahwa yang menarik dari RA Kartini adalah tiga hal: Pertama, Kartini telah mendapat pencerahan (ilmu hikmah) dalam memahami ilmu agama berkat bimbingan seorang ulama (kyai). Kedua, Kartini yang dinyatakan pejuang sejati kesetaraan gender, tetapi pada akhirnya menerima juga ketika suaminya berpoligami. Disitulah rahasia kuat Kartini. Dan ketiga, Kartini adalah generasi pejuang yang lahir dengan garis ayah dari kaum ningrat (terikat dengan adat budaya Jawa) dan dari garis Ibu yang dari ulama-ulama dalam tradisi kaum santri.

Yang perlu dibuka dan dikaji kali ini adalah bagaimana Mbah Sholeh Darat menyinggung atau mengisyaratkan seorang Kartini sebagai seorang muridnya? Apakah ada cacatan tentang itu? Coba kita simak pembukaan Kitab Tafsir Faudlur Rahma karya Mbah Sholeh Darat dalam bahasa Jawa dan ditulis dengan pegon ini:

Alhamdulillah amarana fi amrin hakim, wa nahana ‘anit ta’jil fi amrit ta’lim. Wassalatu wassalamu ‘ala syafi’il anam, sayyidina Muhammadin wa ‘ala ‘alihi washahbihi hidayatal ummah wal malikik ‘allam. Amma ba’du. Mekaten nyuwun marang Syaikhana mu’allif iki tafsir setengahe ikhwan kita fiddin kang supoyo iki tafsir kasebaro luwih disik senadyan mung sak surat, sebab kerono yakine hajate ba’dlul ikhwan mahu lan liyan-liyane hajat ngaweruhi iki tafsir. Maka ora kerso Syaikhana nuruti penuwune ba’dlul ikhwan mahu sebab mengkono iku ora muwafiq karo ‘azate ulama’ yang mutaqaddimin. Jalaran ulama mutaqaddimin iku ora kerso nyebar karangane yen durung rampung sarto piyambake taseh jumeneng. Sak wuse semunu saking bangete kajenge karepe kang nyuwun mahu, maka nuli istakharah Syaikhana nyuwun idzin apa kalilan disebar disik opo ora. Maka nuli diparingi isyarati idzin nyebarake tafsir marang wong akeh. Mulane iki juz awal disebar luwih disik sedurunge rampung liya-liyane. Mugo-mugo kang keri bisoho rampung. Kejobo soko iku iki ta’jil iku ora klebu hadits: “Al’ajalah minasy syaithan” alhadits. Sanadyan nulaya tatapan karo ‘adate ulama mutaqaddimin kerono wus ono idzin mahu kerono hikmah ing njeruni iki ta’jil. Iyo iku inggal-inggal weruhe muslimin kang raghibe yang ora jahade mung ilmune hikmah kang kasebut ono ing iki tafsir mugo-mugo iki ta’jil kalebu ta’jil sababi. Lamun ora dita’jil maka yekti suwe ora weruhe wong akeh mung ilmune hikmah lan asrar kang kasebut ana ing iki tafsir ing hale sak iki kito kabeh wus kewajibane ngaweruhi ilmune hikmah “lan asrore Qur’an”. Iyo bener wus tafsir olehe mahami tafsir liyane iki jalaran tembung Arab serto maneh lamuno olehe nyebar iki tafsir iki ngenteni rampung kabeh, maka yekni isih luas banget lan durung karuwan menangi rampung jalaran umur kito durung karuan menangi rampunge soko rampunge kabeh. Dadi kito mati sakdurunge weruh isine tafsir iki. Mugo-mugo kito keparingan weruh isine kabeh sarto amal alhashil ta’jil iki iku ora haram, ora mekruh, ora khilaful aula malah luwih becik lan luwih agung fadlilahe. Sebab kerono gegawe wasilah marang barang kang luweh gede  iyo iku weruhe wong akih marang ilmu lan hikmah lan asrar. Ing hale asrar iku asrare Ratu kang agung lan maneh iki ta’jil iku ta’jil ata wal hikam”.

Kalimat pembuka ini menjadi fakta tekstual dari Mbah Sholeh Darat terhadap kegelisahan Kartini dalam hal memahami rahasia al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat menegaskan bahwa permintaan untuk menerbitkan bagian dari seluruh tafsir ini permintaan sebagian teman-temannya. Bukan hanya itu, tapi ditegaskan ikhwan kito fiddin (teman yang seagama). Ini menegaskan bahwa permintaan itu bukan dari Belanda yang beda agama. Dan Mbah Sholeh Darat sadar, bahwa tradisi ulama pendahulu itu kalau membuat karya tidak akan dipublikasikan sebelum selesai. Maka langkah spiritual dilakukan dengan istikharah dan isyaratnya boleh mempercepat penyebaran tafsir itu.

Alasan kuat yang menjadikan percepatan penerbitan tafsir itu adalah karena umat sudah sangat membutuhkan. Sedangkan sebagian besar orang Jawa tidak bisa berbahasa Arab. Ungkapan ini sama dengan ungkapan Kartini dalam surat pada Stella. Jadi sangat wajar kalau dialektika karya Kartini direspon cepat oleh Mbah Sholeh Darat. Dan ada yang luar biasa dari ungkapan Mbah Sholeh Darat dalam mengukur usianya. Seakan sudah ada tanda bahwa beliau akan berpamitan pada umat, maka tafsir yang jilid pertama dipercepat.

Sudah tidak ada yang bisa meragukan lagi pertemuan Kartini dengan Mbah Sholeh Darat dalam konteks masa hidup dan karya-karyanya. Ini seakan menjadi bukti nyata “dialog” antara dua tokoh dalam goresan tintanya masing-masing. Kartini melukiskan dalam surat-suratnya. Dan Mbah Sholeh Darat menulis dalammuqaddimah/pembukaan kitab tafsirnya. Apalagi Mbah Sholeh menuliskan kata “Ratu” dalam pembukaan tafsirnya. Kata “Ratu” itu bisa memaksudkan bahwa yang dimaksudkan dua hal: Allah atau “Ratu” itu adalah pemerintah dan keluarga (termasuk Kartini).

Maka KH Dr Imam Taufiq MAg, ahli tafsir UIN Walisongo yang juga Pengasuh Pondok Pesatren Darul Falah Besongo Semarang menyebutkan tegas saat menyampaikan Kajian Tafsir Faidlurrahman di Masjid Agung Kauman Semarang (17 April 2016): “Tradisi penerbitan ulama klasik tidak menyebarkan karangan sebelum selesai. Percepatan penerbitan karena tingginya permintaan dan kebutuhan tafsir al-Qur’an dengan bahasa lokal. Dan desakan Kartini atas penerbitan tafsir lokal kepada KH Sholeh Darat dalam pengajian pamannya, Bupati Demak Ario Hadiningrat”.

Inilah salah satu fakta yang terungkap dari karya Mbah Sholeh Darat yang menegaskan bahwa salah satu yang meminta Mbah Sholeh Darat membuat tafsir berbahasa Jawa adalah Kartini. Dan Kartini juga terpengaruh dengan isi rahasia al-Qur’an yang ditulis oleh Mbah Sholeh Darat. Sehingga Kartini menjadi orang yang berjiwa santriwati dengan status sosialnya sebagai keluarga ningrat (pejabat negara).

Oleh M. Rikza Chamami 

Editor: Dwi Irmayanti

Rabu, 19 April 2017

MENGENAL SOSOK AFRIZAL LEBIH DEKAT


Terusan – SeputarKito.com, Sederhana, optimis dan pantang menyerah, itulah sedikit gambaran sosok Afrizal selaku tokoh masyarakat Muratara.  Pria kelahiran tahun 1970 Desa Suka Menang, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) ini dikenal oleh masyarakat karena kesederhanaan dan sosialnya yang tinggi.

Kepedulian nya dalam bentuk sosial dikalangan masyarakat Muratara sudah tidak diragukan lagi, kerap kali masyarakat dilanda musibah ia hadir ditengah-tegah masyarakat. Aktif hadir ditengah keramaian masyarakat yang sedang menggelar hajatan. Selain itu, ia juga dikenal sebagai sosok yang sangat supel, mudah berbaur tanpa pandang bulu, dan mengayomi.

Beliau sangat baik dengan siapapun, dan tidak pernah tebang pilih dalam tolong menolong. Siapapun yang membutuhkan bantuan pasti akan dibantunya. Lebih lebih orang lemah pasti lebih beliau prioritaskan dari kepentingannya sendiri.” Ungkap Tar (45), salah satu warga Terusan saat dimintai pendapat tentang Afrizal.
Hidup dari kalangan keluarga yang sederhana dan kelas menengah, Anak dari Muhammad Akip ini, memiliki motto hidup, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda atau kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

Menurutnya, Terkadang kegagalan terasa menyakitkan lebih-lebih yang diharapkan jauh dari kenyataan. Tak ayal, kegagalan membuat hidup seseorang menjadi jatuh terpuruk dalam keputusan, namun ia berpesan kegagalan itu wajar dan semua orang pasti mengalaminya.

“Menurut mamak, kegagalan bukan akhir dari segalanya, namun merupakan proses dari lahirnya keberhasilan. Semakin kita terus berusaha memperbaiki setiap kegagalan, yakin lah keberhasilan akan sampai didepan mata,” pesan suami Khasanah Martiah.

Mantan aktivis (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia) PMII, (Remaja Masjid) Risma, dan Rismen ini pun mengingatkan bahwa manusia tidak akan mencapai titik puncak keberhasilan tanpa pernah jatuh dalam titik yang paling bawah. Selain itu, Ia mengibaratkan, kegagalan dan keberhasilan bak bola basket, semakin tinggi ia dijatuhkan maka semakin tinggi ia memantul ke atas.

Sama dengan yang dialami selama hidupnya. Seperti keberadaannya saat ini bukan serta merta diraih tanpa kegagalan. Selain kegagalan, alumnus SD Negeri Sukamenang tahun 1984 dan alumnus MTs Negeri 1 Lubuklinggau ini juga mengalami banyak kesulitan dalam menempuh pendidikan ahir dan S1.

“Setelah lulus MTs, waktu itu mamak sangat ingin bisa sekolah di (Pendidikan Guru Agama) PGA. Mamak pun mencoba mendaftar ke sekolah PGA Bengkulu tahun 1991. Sangat disesalkan waktu tes pertama mamak tidak lulus,” kenangnya sambil menghela nafas. Akhirnya sekolah Tridarma menjadi alternatif terakhir yang ditempuhnya.

Sedikit diceritakannya, saat menempuh pendidikan di Tridarma ia hanya bertahan selama enam bulan, karena ia berubah pikiran ingin mendalami agama Islam, bapak dari lima orang puteri ini pun memutuskan untuk mengakhiri pendidikan di Tridarma dan meneruskan pendidikan di Pondok Pesantren Salaf, yaitu Pesantren Darus Salam Bengkulu.

Tidak berhenti sampai di sini, keinginannya untuk mengenyam pendidikan di PGA tak pernah pupus. Tanpa putus asa, usai nyantri selama tiga tahun, ia pun kembali mendaftarkan diri di PGA Bengkulu.

“Alhamdulillah, sekalipun banyak mengalami kesulitan, cita cita mamak bisa terwujud.” Ucapnya bangga. Tak hanya diterima menjadi siswa PGA, saat itu ia mampu menjadi pelajar yang cukup berprestasi. Selain memiliki nilai Akademik yang cukup baik, ia juga aktif di Organisasi kesiswaan dan pernah menjabat sebagai pengurus pramuka (Dewan Kerja Daerah Provinsi) DKD Bengkulu selama sembilan tahun.

Tidak hanya dalam dunia pendidikan, kegigihannya dalam mewujudkan cita-cita juga tercermin dalam dunia politik. Terbukti dua kali gagal mencalonkan diri sebagai dewan daerah Kabupaten Musirawas pada tahun 2009 dan 2014, tak membuat alumni (Institute Agama Islam Negeri) IAIN Bengkulu ini putus asa.

“Sesuai motto tadi, jadi berapa pun angka kegagalan atau kekalahan, peluang kemenangan pasti menanti, so jangan sia-siakan kesempatan itu.” Tegasnya lugas.

Sebelumnya, Mantan Kepala Desa (Kades) Desa Sukamenang ini, aktif menjadi ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI). Di tahun 2002-2008, ia mulai aktif menjadi kader Golongan Karya (Golkar). Kemudian di tahun 2004 ia menjadi pimpinan Partai Golkar di kecamatan Karang Jaya.

Dua kali gagal nyaleg tak menghentikan langkahnya dalam berkecimpung di dunia politik. Justru berkat kegigihan dan kesabarannya, saat ini ia dipercaya menjabat sebagai ketua DPD Perindo Muratara priode 2016-2021.


Penulis: Dwi Irmayanti