Rabu, 26 April 2017

SIDANG GUGATAN PRAPERADILAN HATTA DITUNDA

Foto: Abdul Aziz, suasana sidang gugatan praperadilan Hatta yang ditunda sampai 3 Mei 2017 

Lubuklinggau- SeputarKito.com, Sidang praperadilan dengan pemohon M Hatta (52) warga Desa Pauh, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) yang didampingi oleh Rumah Bantuan Hukum (RBH) Padang, Sumatera Barat dan termohon pihak Polres Musi Rawas yang dijadwalkan dilaksanakan hari ini, sekira pukul 09.00 WIB ditunda. Pasalnya, pihak polres Musi Rawas mengirimkan surat bahwa kapolres, AKBP Hari Brata sedang dinas luar.

Direktur RBH, Sahnan sahuri siregar, menyayangkan penundaan pelaksanaan sidang tersebut. menurutnya, sidang praperadilan harus dilaksanakan cepat, sederhana dan biaya ringan.

"Sesuai dengan Pasal 82 ayat 1 huruf C KUHAP yang menentukan bahwa persidangan harus dilakukan secara cepat dan selambat lambatnya 7 hari hakim harus menjatuhkan hukuman. Nah, nyatanya Sidang di tunda sampai 3 Mei 2017 mendatang," kata, Sahnan Sahuri Siregar, Lubuk Linggau, Rabu, 26 April 2017.

Lanjutnya, Dia mengatakan, salah satu akibat dari penundaan tersebut dapat merugikan pihak M Hatta yang semakin lama ditahan tanpa ada kepastian hukumnya.

"Pihak termohon mengabaikan asas praperadilan cepat tersebut. Karena ada seseorang dikekang kemerdekaannya," tegas Sahnan.
Kembali dia pertanyakan, alasan ketidak hadiran pihak temohon Kapolres Musi Rawas dengan alasan tengah berada di luar kota. Lanjutnya, masih banyak jajaran petinggi di polres Musi Rawas bukan hanya Kapolres saja untuk bisa menghadiri persidangan.

"Seharusnya juga bisa diwakili bawahan. Panggilan sudah kami terima sejak 17 April 2017, dan saya rasa juga pihak polres Musi Rawas menerima surat pada tanggal yang sama," terangnya.

Saat penundaan sidang, hakim tunggal Ferdinaldo, sempat menunjukkan atau memperlihatkan surat permintaan penundaan sidang dari pihak polres Musi Rawas sampai dengan 3 Mei 2017 mendatang, "Penundaan itu dikabulkan hakim," tutupnya.

Sementara itu, Humas Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau, Hendri menjelaskan bahwa penundaan dapat dikabulkan hakim apabila sepanjang ada permohonan dan alasan jelas.

"Sebenarnya kewenangan hakim, yang pasti ada surat masuk (surat penundaan sidang)," ungkap Hendri. (Rls)

LIMA PENCAPAIAN, MURATARA DAPAT PENGHARGAAN


Sidoarjo-SeputarKito.com, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) dinobatkan sebagai Kabupaten Daerah Otonomi Baru (DOB) bekinerja terbaik di wilayah bagian barat tahun 2017 oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Hal itu ditandai dengan penghargaan dari dirjen otonomi daerah Dr. Sumarsono, M.DM, yang diterima langsung oleh bupati Muratara, Drs. H. Syarif Hidayat MM, di alun-alun Kota Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, Selala, 25 April 2015.

Penghargaan yang diterima oleh Syarif, merupakan keberhasilan Muratara dalam capaian terhadap peningkatan di bidang kebutuhan dasar, dibidang pendidikan, kesehatan dan infrastruktur dasar. Selain itu, capaian terhadap pelayanan umum dan pengelolaan keuangan daerah.

“Alhamdulillah, Muratara dinilai baik dimata pemerintah pusat, dibidang kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur dasar, pelayanan umum dan pengelolaan keuangan daerah,” jelasnya.

Dikatakan bupati Mutarara,  dia berterima kasihnya kepada semua pihak. Lebih-lebih kepada jajaran pemerintah kabupaten Muratara yang dia anggap telah berupaya untuk lebih baik lagi. Menurutnya, dengan adanya penghargaan ini, diharapkan menjadi motivasi dalam meningkatkan kinerja.

“Kita harus mempertahankan dan meningkatkan lagi kinerja kita. Sekali lagi, terima kasih atas dukungan dan kerjasama semua pihak, terlebih kepada masyarakat, aparat keamanan TNI dan Polri,” ungkapnya.

Baca Juga: Catatan Dibalik Penghargaan Muratara

Penghargaan yang diterima Pemkab Muratara ini, berketepatan pada peringatan Hari Otoda ke-XXI oleh Dirjen Otoda kementerian dalam Negeri  (Kemendagri). 
Dirjen Otoda Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) merincikan, ada 542 dari 34 Provinsi, 415 Kabupaten dan 93 Kota Pemerintah daerah yang di Evaluasi Kinerja Penyelengaraan Pemerintahan Daerah “EKPPD” bedasarkan Laporan Penyelengaraan Pemerintah Daerah (LPPD).

Evaluasi dari Dirjen Otoda Kementerian Dalam Negeri  (Kemendagri) dilakukan secara terukur dengan melibatkan beberapa kementerian (Kemandagri, Kementerian PAN/RB, Kementerian Keuangan, Kementerian Hukum dan HAM, Setneg, BAPPENAS, BKN, BPKP, BPS dan LAN) terhadap provinsi, kabupaten/kota untuk memotret kinerja penyelengaraan pemerintah daerah, dari aspek manajemen pemerintah.

Selasa, 25 April 2017

DEMO PEMUDA DAN MAHASISWA MURATARA BERJALAN AMAN

Rupit - SeputarKito.com, Ratusan pemuda yang mengatas namakan Gerakan Pemuda dan Mahasiswa Muratara melakukan aksi demo di depan kantor bupati Muratara, Selasa, 25 April 2017. 

Kordinator lapangan Redi Kosasi dalam orasinya meminta kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Muratara untuk mencopot staf khusus bupati Muratara bagian keagamaan dan pemerdayaan. Pasalnya, menurut Redi, oknum tersebut telah menodai nilai-nilai agama Islam di bumi bumi Muratara. 

"Kami minta kepada pemkab Muratara untuk mencopot dan mengusir oknum yang melakukan penodaan agama Islam di Muratara," terang Redi, saat berorasi, Rupit, Selasa, 25 April 2017. 

Lanjutnya, pemuda dan mahasiswa Muratara tidak terima atas pelakuan pelecehan seksual oleh oknum inisial FI terhadap pegawai Dinas Sosial inisial L. 
Katanya, sebagai generasi muda Muratara, tidak ingin ada kelakuan pejabat yang melenceng dari norma Agama. 

Sementara itu, Wakil Bupati (Wabup) H Devi Suhartoni mengatakan kita minta aksi pada hari ini soal saudara FI akan segara kita rapatkan bersama bupati Muratara. Sebab Bupatilah yang dapat mengambil keputusan. "Ya, soal surat pemberhentia sementara kepada saudara FI, secepatnya akan kita rapatkan bersama bupati," ucap Wabup.

Selanjutnya, ia mengajak kepada anggota aksi dan masyarakat Muratara, agar selalu menjaga nama baik Muratara.

"Muratara ini miliki kita bersama, bukan milik bupati dan Wabup Muratara, jadi kewajiban kita untuk menjaganya," pungkas Wabup.

Usai menerima penjelasan wakil bupati, puluhan pemuda ini memubarkan diri dengan tertib. 

Dilain tempat, Ketua LSM Detak, Aan Jumadi, menilai aksi pemuda Muratara ini seharusnya tidak harus dilakukan, menurutnya, pemkab sekarang lebih terbuka bagi semua orang dan kelompok dengan mengedepankan duduk satu meja. 

"Awak dan LSM Detak tidak mendukung aksi teman-teman hari ini, dengan menyelesaikan isu di Muratara dengan demo. Seharusnya, mengedapankan musyawarah mufakat toh pemimpin kita sangat santun dan bijaksana," terangnya. 

Lanjutnya, selaku, Ketua LSM Detak (demokrasi Tegakkan Keadilan), "Kami berbeda cara menyelesaikan masalah, bukan dengan berdemo. Apa lagi itu untuk mencari sensasi dan kepentingan pribadi" tutupnya.

RBH GUGAT PRAPERADILAN POLRES MUSI RAWAS

Foto: Ilustrasi Praperadilan
Lubuklinggau-SeputarKito.com, Rumah Bantuan Hukum (RBH) kota Padang, Sumatera Barat melakukan gugatan praperadilan terhadap Polres Musi Rawas No Registrasi No. 3/pid. pra/2017/pn.llg atas kasus penahanan M. Hatta (52) warga Desa Pauh, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).

Direktur RBH Padang, Sahnan Sahuri Siregar, S.H, M.H, melakukan upaya hukum dengan gugatan praperadilan terhadap kasus M. Hatta. Rencananya, akan diselenggarakan pada hari Rabu, 26 April 2017. Menurutnya, kuat dugaan pihak penyidik Polres Musi Rawas melakukan ke sewenang-wenangan (abuse of power). Berdasarkan Putusan pengadilan negeri Lubuk Linggau dengan No. 763/Pid.B/2016/PN.LLG.

“Praperadilan yang sudah kita ajukan akan diselenggarakan besok (26 April 2017), Adapun gugatan Praperadilan tersebut dilakukan karena kuat dugaan pihak penyidik Polres Musi Rawas melakukan tindakan ke sewenang-wenangan, karena telah melakukan penetapan tersangka, penangkapan dan Penahanan terhadap klien kami,” jelasnya melalui pesan singkat kepada SeputarKito.com, Lubuklinggau, Selasa, 25 April 2017.

Baca juga: SUDANG GUGATAN PRAPERADILAN HATTA DITUNDA

Ditambahkannya, Saudara Hatta di tangkap dan ditahan menjelang satu hari bebas menjalankan hukumnya. Atas tindakan penyidik Polres Musi Rawas tersebut, tim Rumah Bantuan Hukum meyakini bahwa telah melanggar ketentuan Pasal 76 ayat (1) KUHP, “Itu pelanggaran ketentuan Pasal 76 ayat (1) KUHP atau yang dikenal dengan asas Ne Bis In Idem orang tidak dapat di tuntut dua kali atas peristiwa hukum yang sama,” tambahnya.

Katanya, penetapan tersangka, penangkapan dan Penahanan oleh Penyidik terhadap saudara M. Hatta berdasarkan surat perintah penangkapan No. SP. Kap/96/III /2017/Reskrim dan Surat Perintah Penahanan No. SP. Kap/93/III/2017 tertanggal 19 Maret 2017 beserta dengan BAP pada 10 November 2016 sesungguhnya telah melakukan penyidikan kembali dengan objek dan subjek hukum yang sama terhadap putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap.

“Kesamaan atas rangkaian peristiwa dapat di lihat pada fakta dan pertimbangan putusan No. 763/Pid.B/2016/PN.LLG halaman 18 dan 19, maka alat bukti yang dijadikan sebagai batu uji pula terhadap peristiwa pidana yang kedua pada kasus yang sama ini,” imbuhnya.

Ditempat yang sama, Jubir Tim Advokasi RBH Padang, Abdul Aziz, S.H, menilai tindakan penetapan kasus ini, untuk menjamin adanya ke kepastian hukum.

“Seharusnya penyidikan yang melakukan untuk kasus atau peristiwa hukum yang sama haruslah dinyatakan tidak sah dan melanggar hukum melalui Mekanisme Praperadilan. Hal ini bersesuaian dengan Surat Edaran MA No. 3 Tahun 2002 tentang Ne bis in Idem,” terangnya.

Untuk itu, Aziz, ingatkan kepada semua pihak atas tindakan yang salah atau keliru dari proses penegakan hukum tidak dapat dibiarkan tanpa adanya satu koreksi, jika dibiarkan maka akan terjadi ke sewenang-wenangan yang mengusik rasa keadilan.

Sebagai warga negara yang baik, katanya, agar tercipta nya kepastian hukum maka melalui Mekanisme Pra peradilan lah jalur yang mesti di tempuh, dan team Advokasi Rumah Bantuan Hukum Padang siap menyampaikan argumentasi-argumentasi hukum dalam persidangan. Semoga pengadilan negeri lubuk Linggau dapat menjalankan fungsi nya dengan transparan, adil, jujur dan tidak memihak atas pengaruh apapun, melainkan berdasarkan fakta - fakta hukum,” himbaunya.

Senin, 24 April 2017

ATRIBUT PESIAPAN DEMO PEMUDA MURATARA SUDAH TERPAMPANG

Rupit-SeputarKito.com, Rencana aksi demo pemuda Musi Rawas Utara (Muratara) yang mengatas namakan Gerakan Pemuda dan Mahasiswa Muratara (GPM-Mara) pada hari, Selasa, 25 April 2017 besok sudah terlihat jelas dengan kesiapan atribut dan alat peraga yang sudah disiapkan.

Para pendemo menuntut kepada Pemerintah Daerah Kabupaten (Pemkab) Muratara untuk segera memecat staf khusus Bupati Muratara bidang keagamaan dan kemasyarakatan.

Pasalanya, menurut ketua umum GPM-Mara, Redi Kosasi, oknum staf bupati tersebut sudah menodai nilai-nilai agama Islam di Muratara dengan melakukan perbuatan asusila kepada pegawai Dinas Sosial Muratara, (red).

“Kita menuntut kepada pemkab untuk segera mencopot ustadz FI dari jabatannya sebagai staf khusus bupati karena dia telah menodai nilai-nilai agama Islam dan melukai akhlak Muratara,” jelas Rendi melalui pesannya kepada media SeputarKito.com, Rupit, 24 April 2017.

Sebagai pemuda dan penerus generasi bangsa, ia dan massa lainnya terpanggil hatinya untuk menyuarakan kebaikan di bumi Berselang Serunding yang baru saja menjadi daerah otonomi baru.

“Jangan sampai kemaksiatan melanda para pejabat pemerintah daerah Muratara di bumi Muratara” tambahnya.

katanya, dia dengan puluhan peserta aksi demo lainnya akan melakukan aksinya demonya didepan kantor Bupati Muratara. 

Diteruskannya, rencana selanjutnya akan melakukan long march ke gedung DPRD Muratara. 

“Demo kita sudah direncanakan didepan kantor Bupati Muratara, apabila dirasa perlu kita akan berjalan menuju gedung DPRD Muratara untuk melakukan hal yang sama,” pungkasnya.

Sementara itu, menurut Arissa Milano (Netizen facebook) menanggapi undagan aksi demo ratusan pemuda Muratara yang sudah beredar tiga hari yang lalu dimedia sosial. Ia anggap biasa-biasa saja, sebab, menurutnya tidak perlu mengadakan aksi demo apabila yang bersangkutan sudah tidak menjabat lagi alias mengundurkan diri.

“Awak tidak mau ikut demo kareno percuma saja, yang mau di demo itu orang yang bersangkutan sudah tidak ada lagi,” tulis komentar Arissa. 

PERINGATAN ISRA MI'RAJ, DPD PERINDO INGATKAN PERJUANGAN NABI MUHAMMAD SAW


Terusan-SeputarKito.com, pengurus harian Dewan Pimpinan Daerah (DPD) partai Perindo Muratara mengingatkan perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam rangka perayaan Isra Mi'raj, Senin, 24 April 2017.  Khususnya, saat Nabi Muhammad SAW meminta keringanan jumlah salat dari 50 waktu menjadi 5 waktu.

"Sangat pantas kito membayangkan perjuangan nabi Muhammad SAW yang berjuang untuk menurunkan salat 50 kali sehari, sampai akhirnya 5 kali sehari. Intinya, kita harus salat tepat waktu, karena itu perjuangan sendiri," ujar Afrizal saat menyampai kepada kader partainya, Terusan, Senin,  24 April 2017.

Oleh sebab itu, pria yang tinggal di Desa Terusan ini, berharap Isra Mi'raj dijadikan momentum untuk berubah ke arah yang lebih baik. Ia juga mengingatkan supaya kaum muslim dapat menunaikan salat tepat waktu.

"Intinya, kita harus salat tepat waktu, karena itu perjuangan sendiri. Coba kalau 50 waktu? Jadi, itu kodrat Allah SWT supaya kita bersyukur. Tidak boleh meninggalkan salat," jelas suami Khasanah Martiah. 

Ia juga bersyukur dapatkan kepercayaan masyarakat dan partainya untuk mengabdi kepada masyarakat Muratara. Menurutnya, kesempatan itu, ia manfaatkan untuk mengajak kepada semua orang untuk meneladani nabi Muhammad SAW. 

"Kepercayaan yang di amanatkan kepada mamak sekarang akan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mengingatkan pada diri sendiri dan orang banyak untuk meneladani sifat, perkataan dan perbuatan nabi Muhammad SAW, " pungkasnya. 

Ditempat yang sama, sekretaris DPD Perindo Muratara, Icandra Tanjung, menyoroti peringatan perayakan Isra' Mi'raj di tanah air. Baginya, sebuah peristiwa besar yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Terdapat banyak hikmah yang dapat detik oleh umat Islam terkait peristiwa tersebut. setidaknya ada tiga pesan atau hikmah yang dapat diambil dari Isra' Mi'raj.

"Isra' Mi'raj itu intinyo, peningkatan. Mi'raj itu kan naik. Jadi kito harus melakukan peningkatan di semua aspek. Penguatan akidah, penguatan kemampuan ekonominya, kemudian juga penguatan bersaudarah," jelasnya.

KORBAN NYAWA PENEMBAKAN BRUTAL OKNUM POLISI BERTAMBAH MENJADI DUA ORANG

Foto: Indra (35) korban nyawa penembakan brutal oleh oknum polisi Lubuklinggau

PALEMBANG-SeputarKito.com,  insiden penembakan brutal oleh oknum anggota polres Lubuk Linggau di Jalan Lingkar HM Suharto Kelurahan Simpang Periuk, Kecamatan Selatan II‎, pada Selasa 18/4/2017 lalu mengakibatkan bertambahnya korban nyawa menjadi dua orang. 

Korban nyawa pertama,  Surini (50) tewas ditempat. Kedua,  Indra (35) tewas setelah dirawat di Rumah Sakit Muhammad Husein Palembang pada Senin,  24/4/2017 pagi hari. 

Hal ini disampaikan oleh kuasa hukum korban penembakan, Frandes kepada awak media seperti yang dilansir sindonews.

"Iya benar, Indra meninggal tadi Subuh, saya mendapat kabar langsung dari saudaranya Wawan suaminya Novianti kalau Indra meninggal dunia," jelasnya.

Kembali ia jelaskan, luka tembak pada leher Indara cukup parah dibagin leher sehingga dilarikan ke RSMH Palembang pada Selasa malam 18 April 2017 dikarenakan pihak RS Sobirin Lubuklinggau sudah tidak mampu melakukan perawatan dan pengobatan terhadap luka yang dialami korban.

"Luka tembak pada leher Indra sangat parah sehingga pihak RS Sobirin Lubuklinggau melarikan Indra ke RSMH Palembang. Namun, naas iya menghembus nafas terakhir," tambahnya. 

Disampaikanya, jenazah Indra akan segera dibawa ke Desa Belitar, Kecamatan Sindang Kelingi, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu untuk dimakamkan.

Ditempat yang berbeda, Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Muratara, Icandra Tanjung mengecam keras tindakan berutal oknum polisi ini. Ia himbau kepada penegak hukum agar insiden ini yang pertama dan terakhir. 

"Kapolri harus ambil tindakan tegas atas insiden tindakan brutal oknum anggota polisi polres Lubuklinggau yang menyebabkan 2 orang meninggal. Mari bersama-sama menjadikan pelajaran atas kesalahan pengunaan senjata api," harapnya. 

Minggu, 23 April 2017

DPD PERINDO MURATARA PERKUAT STRUKTUR PARTAI

Foto Bersama pengurus DPD, DPC, DPRT, Kader dan Simpatisan Partai Perindo seusai acara konsolidasi. 

Nibung-SeputarKito.com, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) adakan konsolidasi penguat struktur  bagi seluruh kader partai Persatuan Indonesia (Perindo) Muratara di Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Nibung, Kabupaten Muratara.

Pertemuan yang berlangsung di kantor Dewan Pengurus Kecamatan (DPC) Nibung ini berlangsung lancar dan sukses dengan dihadiri ratusan kader,  Nibung, Minggu, 23 April 2017. 

Dalam konsolidasi yang mengusung tema memperkuat "Struktur Organisasi Partai". Ketua pengurus harian DPD PERINDO MURATARA, Afrizal, S. Ag menyampaikan kepada seluruh pengurus DPD, DPC, DPRT dan Organisasi Sayap Perindo untuk terus pererat talisilaturahmi dan komunikasi secara langsung kepada masyarakat untuk menjelas partai Perindo. 

"Partai Perindo kita ini baru berumur 2,5 tahun yang perlu secara berkala untuk memperkuat silaturahmi dan komunikasi dengan masyarakat secara langsung," jelas Afrizal saat memberi kata sambutan, Nibung,  Minggu, 23 April 2017.

Menurut Pria kelahiran Desa Suka Menanang, Muratara ini, silaturahmi dan komunikasi perlu dilakukan oleh pengurus, kader dan simpatisan kepada lapisan masyarakat merupakan perjuangan yang paling minimal harus bisa dilakukan oleh DPD, DPC, DPRT dan simpatisan. 

"Partai Perindo merupakan partai yang baru berusia 2,5 tahun yang perlu giat kita menjelaskan kepada masyarakat tentang kontribusi partai Perindo kepada masyarakat," tambanya. 

Kembali ia jelaskan, kontribusi partai selama 2,5 tahun belakangan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat seperti pemberian gerobak untuk para pedagang, kambing untuk para perternak, bantuan kelengkapan kapal tangkap ikan untuk para nelayan. 

"Pemberian yang diberikan oleh partai perindo itu sangat diperlukan oleh masyarakat. Bayangkan saja, apabila partai Perindo menang dan ada kader yang duduk dilegislatif pusat, provinsi dan daerah, maka tidak menutup kemungkinan harapan kita dapat terwujud," imbunya. 

Selain itu, Afrizal yang didampingi sekretaris DPD PERINDO Muratara, Ican Tanjung, mengingatkan dengan peserta konsulidasi bahwa posisi partai Perindo ditingkat nasional masuk lima besar pilihan masyarakat. 

"Kita harus terus semangat, meskipun partai Perindo dinasioanl masuk diposisi nomor empat sebagai partai pilihan masyarakat," ajaknya. 

Ditempat yang sama, salah satu peserta Jaya (45), warga Desa Nibung dan juga menjabat sebagai pengurus DPRT Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Nibung menyampaikan rasa optimisnya dengan adanya konsulidasi DPD PERINDO Muratara akan berdampak positif bagi partai dan masyarakat Muratara.

"Pertemuan dan silaturahmi ini, penting dilakukan untuk mempererat dan membahasa kebutuhan dan harapan masyarakat," paparnya. 

Selain itu ia berharap, kedepanya akan ada bantuan langsung dari partai perindo untuk daerah DPC Nibung, seperti bantuan-bantuan partai Perindo yang selama ini diterima masyarakat luas Indonesia. 

"Kami berharap daerah kami yang serba terbatas ini dari kebutuhan dasar kehidupan seperti tidak ada listrik, air bersih, jalan rusak mendapat bantuan dari partai Perindo seperti masyarakat lainnya di Indonesia," harapnya. 

Sabtu, 22 April 2017

TIDAK MEMILIKI PAGAR SEKOLAH, KEAMANAN DAN KENYAMANAN BELAJAR DI SDN TANJUNG BERINGIN DIPERTANYAKAN

Foto: Kondisi SDN Tanjung Beringin yang tidak memiliki pagar keliling

Rupit-SeputarKito.com, Sarana prasarana dan fasilitas penunjang lainnya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tanjung Beringin, Kecamatan Muara Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) semakin memperhatikan. Lantaran, sudah beberapa kali meminta untuk dilakukan rehab dan pembangunan gedung tapi tak kunjung terealisasi. Ironisnya sekolah tersebut tidak memiliki pagar keliling sekolah sehinga sejumlah guru merasa kualahan dalam mengawasi para pelajar.

‎Kepala sekolah SD N Tanjung Beringin M Rasyidi melalui guru pengajar Samsuri mengatakan, beberapa tahun yang lalu pihaknya sudah pernah mengajukan proposal, meminta kepada pemerintah untuk melakukan pembangunan, bahkan pada saat itu pernah mendapatkan respon positif dari Dinas pendidikan untuk pembangunannya, namun sampai saat ini harapan itu terwujud.

"SD N Tanjung beringin masih banyak kekurangan bangunan antara lain belum memiliki Ruang guru, perumahan guru yang sekarang ini lagi rusak dan pagar sekolah hanya bagian depan saja,
sedangkan samping kiri dan kanang termasuk belakang belum ada," terangnya, Rupit, Juma’at, 21 April 2017.

Samsuri berharap, kepada pemerintah daerah atau melalui instansi terkait kira nya dapat meninjau langsung ke lapangan untuk melihat apa yang di butuhkan oleh pihak sekolah, karena dengan fasilitas yang serbah kekurangan, dunia pendidikan tidak akan berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan bersama.


Sementara itu, kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Muratara Abdul Rahman Wahid melalui kabid pembinaan dasar (dikdas) Abdul Kadir Mengatakan, pembangunan masih menunggu tahapan verifikasi, mengingat daerah kita masih baru, tentunya pihaknya akan melihat yang mana yang akan di prioritaskan terlebih dahulu termasuk SDN Tanjung Beringin.

"Sejauh ini pihaknya belum pernah mendapatkan laporan atau keluhan dari SDN Tanjung Beringin, tetapi pihaknya akan segera turun kelapangan. Untuk meninjau ke lokasi serta akan mendengar langsung keluh kesah dari kepala sekolah, dewan guru dan siswa/i SDN Tanjung Beringin," ungkapnya
.

Kadir melanjutkan, ke depan akan memverifikasi sekolah mana yang lebih membutuhkan akan diusulkan untuk di bantu, namun diharapkan kepada kepala sekolah atau pun dewan guru bersabar karena itu semua butuh proses
.

Penulis: Zul
Editor: Dwi Irmayanti

Jumat, 21 April 2017

HARI KARTINI, PELAYANAN DI POLRES MUSI RAWAS UTAMAKAN KAUM PEREMPUAN


Foto: Suasana Pelayan Pembuatan SKCK di Polres Muara Beliti

Musi Rawas – SeputarKito.com Dalam rangka memperingati Hari Kartini pada tahun 2017 ini, Sat Lantas Polres Musi Rawas dalam hal ini Personel Polwan (Polisi Wanita) bersama dengan seluruh Polwan jajaran Polres Musi Rawas melaksanakan kegiatan yang menarik.

Bertempat diruang-ruang pelayanan Polres Musi Rawas, tampak Polisi Wanita menggunakan pakaian yang tak lazim seperti biasanya, mereka Polwan Polres Musi Rawas menggunakan pakaian adat nasional yaitu Kebaya untuk memperingati Hari Kartini, Beliti, Jumat, 21 April 2017.

Kapolres Musi Rawas AKBP HARI BRATA, SIK melalui Wakapolres Mura Kompol Padmo Arianto, SIK didampingi Kasat Lantas AKP Budi Hartono S, SH, SIK menjelaskan bahwa memang betul Polwan tampil beda hari ini.

“Kami menggelar Polwan menggunakan kebaya, sebagai bentuk penghargaan kita kepada Pahlawan Nasional R.A. Kartini, dimana tonggak awal emansipasi wanita dimulai dari perjuang R.A. Kartini, jadi sudah sepantasnya kita khususnya Polwan menghargai itu,” ujar Waka.

Kemudian Kasat Lantas menambahkan bahwa, “pada sektor pelayanan Samsat dan SIM serta SKCK, Polwan juga kita libatkan menggunakan pakaian kebaya, selain itu untuk menghormati hari kartini pelayanan-pelayanan Kepolisian hari ini di Polres Mura, kita utamakan percepatan bagi kaum perempuan atau istilahnya ladies first” ditambahkan Kasat.

Penulis: Zul
Editor: Dwi Irmayanti

Wabup: Seharusnya Peringatan RA. Kartini Undang Ibu Kades

Foto : Suasana peringatan RA. Kartini di Kantor Bupati Musi Rawas Utara yang tampak sepi.

Muratara-Seputarkito.com, Dalam rangka memperingati RA. Kartini, yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), menuai pertanya dari Wakil Bupati (Wabup) H. Devi Suhartoni.

Peringatan hari Kartini yang sebagai partisipasi ibu-ibu DWP dan TP-PKK Kabupaten Muratara sangat disayangkan pejabat Muratara lantaran sepi.

"Yang pertama saya ingin bertanya, kenapa acara ini sepi? Seharusnya seluruh ibu-ibu Kepala Desa diundang," kata Wabup Muratara, H. Devi Suhartoni, saat menyampaikan kata sambutan di puncak peringatan RA. Kartini Kabupaten Muratara, Rupit, Jum'at, 21 April 2017.

Terkait hal itu,  Wabup menghimbau pada ibu-ibu DWP maupun TP-PKK Kabupaten Muratara,  kedepan hendaknya mengundang seluruh ibu Kepala Desa.

"Karena yang menggerakkan seluruh desa kaum perempuan adalah ibu-ibu Kades," imbuh Wabup.

Dianjurkannya, bahwa peringatan RA. Kartini juga sebagai ajang silaturahmi bagi kaum perempuan jadi semangat perempuan harus terus dipacu. "Sehingga semangat Kartini sampai ke desa," pintanya.

Dilanjutkannya,  bahwa peran wanita sangatlah penting, seperti semangat RA. Kartini,  sehingga ibu-ibu dapat membina anak-anak menjadi pintar.

Untuk itu, semangat ibu-ibu harus terus ditanamkan, sehingga dengan adanya pemekaran Kabupaten Muratara ini dirasakan oleh masyarakat desa. "Saya dengan bapak Bupati selalu turun ke desa agar masyarakat merasakan dengan kehadiran pejabat daerah. Kami harapkan ibu-ibupun begitu. Sehingga di atas kelemahan dan kekuatan kita, hanya untuk Muratara Bangkit," paparnya.

Sementara pantauan di lapangan, peringatan RA. Kartini tersebut telah berlangsung sejak Kamis, 20 April 2017-Jumat, 21 April 2017 dengan berbagai perlombaan yang diikuti oleh ibu-ibu SKPD, baik lomba Puisi,  Pakaian Kebaya dan Aneka Masakan. 

Dimana acara puncaknya, yang dibuka langsung oleh Wakil Bupati Muratara, pada pukul 09.30 WIB banyak terdapat kursi yang kosong. Lebih kurang separuh kursi yang disediakan tanpa ada tamu undangan.

Penulis: Zul
Editor: Dwi Irmayanti

RA. KARTINI, TAFSIR AL QUR'AN DAN KH. SALEH DARAT

SeputarKito.com, Kisah tentang bagaimana KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (Mbah Sholeh Darat) melukiskan sosok Raden Ajeng Kartini dalam Kitab Tafsir Faidlur Rahmanmasih selalu menjadi pertanyaan. Apakah itu hanya sebuah sejarah lisan yang tidak dapat dibuktikan? Ternyata fakta ini mulai nyata dan dapat dilacak dari karya Mbah Sholeh Darat.

Orang seperti Kartini dengan segala kemewahan hidup butuh pencerahan agama. Apalagi keluarga Kartini dikenal sebagai keluarga santri-priyayi yang tekun dalam beragama dan dedikasi kuat dalam menjalankan roda pemerintahan. Itu semua demi rakyat Bumiputra (demikian Kartini selalu menyebut Indonesia dengan istilah Bumiputra).

Alhasil, ketika Kartini belajar al-Qur’an terasa hampa, karena ia hanya belajar mengeja dan membaca. Isi kandungan al-Qur’an tidak dapat diserap. Ia mengibaratkan bahwa belajar al-Qur’an dengan model demikian akan menjadikan orang Islam tidak mengetahui mutiara hikmah al-Qur’an. Ketika ia meminta guru ngajinya mengartikan al-Qur’an justeru Kartini dimarahi. Kartini mulai gelisah dan sangat gelisah.

Ia berontak akan belum sempurnanya Islam yang dipeluknya jika ia belum tahu isi al-Qur’an. Bahasa asing seperti Belanda, Prancis dan Inggris saja ia lahap dengan baik, maka bahasa agamanya, yakni Arab juga ia berusaha pelajari. Namun Kartini tidak menemukan guru bahasa Arab atau guru tafsir. Itulah Kartini, seorang perempuan muda yang tidak kenal lelah belajar bermasyarakat dan beragama.

Maka saat Kartini masih berumur 20 tahun sudah mengungkapkan kegelisahan itu dalam suratnya kepada Stella EH Zeehandelaar tertanggal 6 November 1899: “Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Disini orang juga tidak tahu Bahasa Arab. Disini orang diajari membaca al-Qur’an, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya”.

Begitu dahsyatnya Kartini melakukan kritik kuat terhadap pembelajaran agama di akhir abad 19 itu. Dan itu menjadi bukti bahwa Kartini sangat peduli terhadap kuatnya minat untuk belajar isi agama yang terkandung dalam al-Qur’an. Dan saat itu belum ada tafsir al-Qur’an yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Melayu atau Jawa. Wajar, jika Kartini menjadi penasaran!

Kartini masih melanjutkan kalimat dalam surat itu: “Sama halnya seperti kamu mengajar saya membaca buku bahasa Inggris yang harus hapal seluruhnya, tanpa kamu terangkan maknanya kepada saya. Kalau saya mau mengenal dan memahami agama saya, maka saya harus pergi ke negeri Arab untuk mempelajari bahasanya disana. Walaupun tidak saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati. Bukankah demikian Stella?”

Kalimat itu jelas menandakan tak berdayanya seorang Kartini akan bahasa Arab. Ia dibuat pusing oleh bahasa Arab dan dibuat penasaran oleh agamanya yang berbahasa Arab. Maka ia rindu dengan negeri Arab untuk belajar kesana. Dan itu sangat tidak mungkin, sebab harapannya ke Belanda yang ia kuasai bahasanya saja gagal dan digantikan Agus Salim. Maka ia menanti kehadiran orang Jawa yang pernah di negeri Arab agar bisa menjelaskan isi al-Qur’an.

Siapakah dia? Mbah Sholeh Daratlah yang mampu membuka wawasan Islam Kartini. Al-Qur’an yang demikian suci dibuka maknanya sehingga Kartini memahaminya. Mengenai waktu kapan Kartini bertemu Mbah Sholeh Darat, penulis lebih sepakat memilih pertemuan itu sudah jauh hari sebelum 1901 (dua tahun pernikahan Kartini). Sebagaimana pendapat Moesa Mahfudz yang dikutip Abdullah Salim bahwa pertemuan Kartini itu diperkirakan 1901. Tapi kemungkinan besar itu pertemuan yang kesekian kalinya.

Sebab surat Kartini di usianya 20 tahun (1899) sudah paham tentang ajaran al-Qur’an dengan tidak bolehnya orang Belanda menyalahkan ayahnya yang melakukan poligami. Bahkan Kartini mengutip ajaran Islam tidak melarang beristri empat. Ini menunjukkan sebelum surat itu ditulis, Kartini sudah pernah belajar tentang kandungan al-Qur’an surat an-Nisa ayat 3: “...Fankihu ma thaba lakum minan nisa’ matsna watsulatsa wa ruba’...; Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi, dua, tiga atau empat”.

Tafsir Faidlur Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malikid Dayyan jilid satu itu ditulis selama sebelas bulan oleh Mbah Sholeh Darat (20 Rajab 1309 H/19 Februari 1892 sampai 19 Jumadal Ula 1310 H/9 Desember 1892 M). Jilid pertama ini berjumlah 503 halaman dengan bahasan surat al-Fatihah dan surat al-Baqarah. Kemudian kitab tafsir itu dicetak oleh percetakan HM Amin Singapura pada 27 Rabiul Akhir 1311 H/7 November 1893. Oleh Amirul Ulum ditegaskan bahwa pertemuan Kartini dan Mbah Sholeh Darat sudah pernah dilakukan sebelum 1892, tepat sebelum Kartini dipingit.

Seorang suami dari buyut Mbah Sholeh Darat bernama Agus Tiyanto (sering menyebut namanya Abu Malikus Salih Dzahir) menjelaskan bahwa sumber data Kartini pernah nyantri dengan Mbah Sholeh Darat ini awalnya ditemukan oleh Moesa Machfudz (dosen sejarah UGM) berdasarkan catatan pribadi murid Kyai Sholeh Darat yaitu KH. Ma'shum Demak. Dan itu dimuat dalam Majalah Gema Yogyakarta Nomor 3 tahun 1978.

Adapun tokoh-tokoh generasi awalyang melacak dan meneliti riwayat Mbah Soleh Darat pertama adalah HM. Ali Cholil (cucu Kyai Soleh Darat), kemudian dilanjutkan Abdullah Salim (Universitas Sultan Agung), Danuwiyoto (Dosen IAIN Sunan Kalijogo) dan Muchoyyar (IAIN Walisongo). Yang menulis buku tentang Mbah Sholeh Darat pertama adalah Abdullah Salim dalam tulisan Arab Pegon dan dilanjutkan Agus Tiyanto dengan kemudian adanya revisi tambahan dan editing dari Muhammad Ikhwan.

Agus Tiyanto menambahkan  bahwa yang menarik dari RA Kartini adalah tiga hal: Pertama, Kartini telah mendapat pencerahan (ilmu hikmah) dalam memahami ilmu agama berkat bimbingan seorang ulama (kyai). Kedua, Kartini yang dinyatakan pejuang sejati kesetaraan gender, tetapi pada akhirnya menerima juga ketika suaminya berpoligami. Disitulah rahasia kuat Kartini. Dan ketiga, Kartini adalah generasi pejuang yang lahir dengan garis ayah dari kaum ningrat (terikat dengan adat budaya Jawa) dan dari garis Ibu yang dari ulama-ulama dalam tradisi kaum santri.

Yang perlu dibuka dan dikaji kali ini adalah bagaimana Mbah Sholeh Darat menyinggung atau mengisyaratkan seorang Kartini sebagai seorang muridnya? Apakah ada cacatan tentang itu? Coba kita simak pembukaan Kitab Tafsir Faudlur Rahma karya Mbah Sholeh Darat dalam bahasa Jawa dan ditulis dengan pegon ini:

Alhamdulillah amarana fi amrin hakim, wa nahana ‘anit ta’jil fi amrit ta’lim. Wassalatu wassalamu ‘ala syafi’il anam, sayyidina Muhammadin wa ‘ala ‘alihi washahbihi hidayatal ummah wal malikik ‘allam. Amma ba’du. Mekaten nyuwun marang Syaikhana mu’allif iki tafsir setengahe ikhwan kita fiddin kang supoyo iki tafsir kasebaro luwih disik senadyan mung sak surat, sebab kerono yakine hajate ba’dlul ikhwan mahu lan liyan-liyane hajat ngaweruhi iki tafsir. Maka ora kerso Syaikhana nuruti penuwune ba’dlul ikhwan mahu sebab mengkono iku ora muwafiq karo ‘azate ulama’ yang mutaqaddimin. Jalaran ulama mutaqaddimin iku ora kerso nyebar karangane yen durung rampung sarto piyambake taseh jumeneng. Sak wuse semunu saking bangete kajenge karepe kang nyuwun mahu, maka nuli istakharah Syaikhana nyuwun idzin apa kalilan disebar disik opo ora. Maka nuli diparingi isyarati idzin nyebarake tafsir marang wong akeh. Mulane iki juz awal disebar luwih disik sedurunge rampung liya-liyane. Mugo-mugo kang keri bisoho rampung. Kejobo soko iku iki ta’jil iku ora klebu hadits: “Al’ajalah minasy syaithan” alhadits. Sanadyan nulaya tatapan karo ‘adate ulama mutaqaddimin kerono wus ono idzin mahu kerono hikmah ing njeruni iki ta’jil. Iyo iku inggal-inggal weruhe muslimin kang raghibe yang ora jahade mung ilmune hikmah kang kasebut ono ing iki tafsir mugo-mugo iki ta’jil kalebu ta’jil sababi. Lamun ora dita’jil maka yekti suwe ora weruhe wong akeh mung ilmune hikmah lan asrar kang kasebut ana ing iki tafsir ing hale sak iki kito kabeh wus kewajibane ngaweruhi ilmune hikmah “lan asrore Qur’an”. Iyo bener wus tafsir olehe mahami tafsir liyane iki jalaran tembung Arab serto maneh lamuno olehe nyebar iki tafsir iki ngenteni rampung kabeh, maka yekni isih luas banget lan durung karuwan menangi rampung jalaran umur kito durung karuan menangi rampunge soko rampunge kabeh. Dadi kito mati sakdurunge weruh isine tafsir iki. Mugo-mugo kito keparingan weruh isine kabeh sarto amal alhashil ta’jil iki iku ora haram, ora mekruh, ora khilaful aula malah luwih becik lan luwih agung fadlilahe. Sebab kerono gegawe wasilah marang barang kang luweh gede  iyo iku weruhe wong akih marang ilmu lan hikmah lan asrar. Ing hale asrar iku asrare Ratu kang agung lan maneh iki ta’jil iku ta’jil ata wal hikam”.

Kalimat pembuka ini menjadi fakta tekstual dari Mbah Sholeh Darat terhadap kegelisahan Kartini dalam hal memahami rahasia al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat menegaskan bahwa permintaan untuk menerbitkan bagian dari seluruh tafsir ini permintaan sebagian teman-temannya. Bukan hanya itu, tapi ditegaskan ikhwan kito fiddin (teman yang seagama). Ini menegaskan bahwa permintaan itu bukan dari Belanda yang beda agama. Dan Mbah Sholeh Darat sadar, bahwa tradisi ulama pendahulu itu kalau membuat karya tidak akan dipublikasikan sebelum selesai. Maka langkah spiritual dilakukan dengan istikharah dan isyaratnya boleh mempercepat penyebaran tafsir itu.

Alasan kuat yang menjadikan percepatan penerbitan tafsir itu adalah karena umat sudah sangat membutuhkan. Sedangkan sebagian besar orang Jawa tidak bisa berbahasa Arab. Ungkapan ini sama dengan ungkapan Kartini dalam surat pada Stella. Jadi sangat wajar kalau dialektika karya Kartini direspon cepat oleh Mbah Sholeh Darat. Dan ada yang luar biasa dari ungkapan Mbah Sholeh Darat dalam mengukur usianya. Seakan sudah ada tanda bahwa beliau akan berpamitan pada umat, maka tafsir yang jilid pertama dipercepat.

Sudah tidak ada yang bisa meragukan lagi pertemuan Kartini dengan Mbah Sholeh Darat dalam konteks masa hidup dan karya-karyanya. Ini seakan menjadi bukti nyata “dialog” antara dua tokoh dalam goresan tintanya masing-masing. Kartini melukiskan dalam surat-suratnya. Dan Mbah Sholeh Darat menulis dalammuqaddimah/pembukaan kitab tafsirnya. Apalagi Mbah Sholeh menuliskan kata “Ratu” dalam pembukaan tafsirnya. Kata “Ratu” itu bisa memaksudkan bahwa yang dimaksudkan dua hal: Allah atau “Ratu” itu adalah pemerintah dan keluarga (termasuk Kartini).

Maka KH Dr Imam Taufiq MAg, ahli tafsir UIN Walisongo yang juga Pengasuh Pondok Pesatren Darul Falah Besongo Semarang menyebutkan tegas saat menyampaikan Kajian Tafsir Faidlurrahman di Masjid Agung Kauman Semarang (17 April 2016): “Tradisi penerbitan ulama klasik tidak menyebarkan karangan sebelum selesai. Percepatan penerbitan karena tingginya permintaan dan kebutuhan tafsir al-Qur’an dengan bahasa lokal. Dan desakan Kartini atas penerbitan tafsir lokal kepada KH Sholeh Darat dalam pengajian pamannya, Bupati Demak Ario Hadiningrat”.

Inilah salah satu fakta yang terungkap dari karya Mbah Sholeh Darat yang menegaskan bahwa salah satu yang meminta Mbah Sholeh Darat membuat tafsir berbahasa Jawa adalah Kartini. Dan Kartini juga terpengaruh dengan isi rahasia al-Qur’an yang ditulis oleh Mbah Sholeh Darat. Sehingga Kartini menjadi orang yang berjiwa santriwati dengan status sosialnya sebagai keluarga ningrat (pejabat negara).

Oleh M. Rikza Chamami 

Editor: Dwi Irmayanti

Kamis, 20 April 2017

MENJAGA DAYA TAHAN TUBUH SAAT CUACA TAK MENENTU


Muratara-SeputarKito.com, Belakangan ini cuaca sulit diprediksi, kadang terik panas, kadang hujan lebat. Kondisi ini tidak hanya bisa menghambat aktivitas, tapi juga berisiko menurunkan daya tahan tubuh. Karenanya, masyarakat diharapkan untuk selalu menjaga ketahanan tubuh agar tidak mudah terserang penyakit.

Hal tersebut disampaikakan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muratara, dr. Mahendra, Rupit, Kamis, 20 April 2017.

"Dengan cuaca seperti ini, tubuh kita harus beradaptasi terhadap semua kondisi, jadi butuh daya tahan tubuh yang kuat," ujar Mahendra saat dihubungi melalui telephone celuler.

Ia mengatakan, kelompok rentan seperti balita, usia lanjut, atau yang punya penyakit kronis, perlu lebih memperhatikan kesehatannya. Begitu juga, mereka yang bekerja di lapangan,  harus lebih menjaga ketahanan tubuh. Bagaimana menjaganya?

Lebih lanjut ia menjelaskan, pastikan kondisi tubuh dalam kondisi fit. Dengan cara ini, sistem kekebalan tubuh pun akan tetap stabil, sehingga bakteri dan virus penyebab penyakit tidak mudah menyerang.

"Berikut merupakan beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kondisi tubuh tetap fit. Konsumsi makanan sehat, terutama makanan berkuah. Konsumsi buah-buahan dan sayuran hijau. Perbanyak juga minum air putih," jelasnya.

Ia menambahkan, istirahat yang cukup juga tak kalah pentingnya dalam menjaga kondisi tubuh agar tetap fit, terutama tidur di malam hari minimal 8 jam per hari. selain itu, imbuhnya, lakukan olahraga ringan minimal 30 menit. 

"Pola makan dijaga supaya ada energi, dan bagi yang bekerja di luar, gunakan pelindung," katanya.

Ia mencontohkan untuk menggunakan jas hujan ketika hujan dan menggunakan masker saat cuaca panas. (DIY)

Rabu, 19 April 2017

KRONOLOGI OKNUM POLISI TEMBAKI MOBIL TEROBOS RAZIA POLISI

Foto: salah satu korban keluarga yang tewas tertembak oknum polisi, Selasa, 18 April 2017 

LUBUKLINGGAU-SeputarKito.com, Warga Jalan HM Soeharto, Kelurahan Simpang Periuk, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II, dihebohkan dengan insiden penembakan anggota polisi terhadap sebuah mobil Honda City dengan Nomor Polisi (Nopol) BG 1488 ON yang ditumpangi satu keluarga. Akibat kejadian ini satu orang tewas sementara 6 orang lainnya mengalami luka-luka, Selasa,  18 April 2017.


Berdasarkan data yang dihimpun, Satu keluarga tersebut berasal dari Desa Blitar, Kecamatan Sindang Kelingi, Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, yang akan menghadiri undangan di Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas.

Korban diantarannya, Gatot Sundari (29), ia nyaris tewas karena mengalami luka tembak dibagian punggung. Sementara itu anggota keluarga lainnya yakni, Indra (35), mengalami luka tembak dibagian tangan hingga tembus, Novianti (31), mengalami luka tembak bagian lengan sebelah kanan. Lalu Dewi Arlina (39) mengalami luka tembak lengan bagian sebelah kiri tembus, Genta Wicaksono balita usia (3) mengalami luka dibagian telinga sebelah kiri. Sedangkan Galih (6) tidak mengalami luka. Kemudian Surini (50) harus mengalami nasib naas dan diduga tewas ditempat, karena mengalami luka tembak di bagian paha kiri satu lubang, luka perut sebelah kiri, dan tiga luka tembak dibawah payudara sebelah kanan.

Foto: kondisi mobil paska insiden penembakan di Jalan HM Soeharto, Lubuklinggau, Selasa, 18 April 2017

Sementara itu, Wakapolres Lubuklinggau, Kompol Andi Kumara mengatakan bahwa penembakan terhadap mobil tersebut karena pengemudi mobil tidak mau berhenti saat dirazia lalulintas, bahkan nyaris menabrak anggota yang sedang razia.

Andi menerangkan kronologis peristiwa berdarah tersebut, terjadi sekitar pukul 11.30 WIB. Dimana polisi tengah melakukan razia sejak sejak pukul 10.00 WIB . Razia tersebut dipimpin Kapolsek Lubuklinggau Timur, AKP Muhammad Ismail.

Saat berlangsung razia, lanjut Andi, ada kendaraan yang tidak mau dihentikan, dan nyaris menabrak anggota polisi yang tengah bertugas. Polisipun dengan cepat melakukan pengejaran, dan saat sopir mengetahui hal itu, justru menambah kecepatan dan sampai di lampu merah Taba pingin pun mereka nekat menerobos. Tak jauh dari lampu merah mobil sempat mengurangi kecepatan, karena ada mobil didepannya. Polisi kembali mengejar dan mencoba menghentikan, tapi lagi lagi mobil melaju semakin kencang, dan ahirnya polisi berhasil menghentikan mobil sampai depan Bank Mandiri. Saat diminta membuka kaca pengemudi mereka tidak segeravmembukanya

"Disuruh buka kaca tidak mau, diberikan tembakan peringatan tidak berhenti, sementara kaca gelap jadi tidak tampak apa isi dalam mobil tersebut, anggota pun semakin curiga. Kemudian setelah terjadi (tembakan) dan dicek di dalamnya tidak seperti dugaan," terangnya.

Mengenai SOP penembakan, Andi menyatakan sebetulnya harus memberikan tembakan peringatan terlebih dahulu dan itu sudah dilakukan anggotanya. Namun untuk urgensi memberikan tembakan  akan dikaji lagi oleh tim khusus dari Polda. (DIY)

OMBUDSMAN ANGKAT BICARA TERHADAP AKSI KOBOI POLISI


Lubuk Linggau – SeputarKito.com, Kasus penembakan polisi terhadap mobil yang menerobos barisan razia di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan mendapat sorotan dari berbagai pihak.

Salah satu pihak yang sangat geram dengan tindakan koboi polisi ini adalah Komisi Ombudsman Nasional. Ombudsman sebagai lembaga negara Indonesia yang mempunyai kewenangan mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik menilai cara kerja polisi tidak tidak sepantasnya terjadi.

Menurut Ketua Ombudsman RI, Amzulian Rifai, cara kerja polisi yang mengejar pengendara yang menerobos barisan razia dengan cara menembak sudah tidaklah profesional. Apalagi tembakan diperparah yang mengakibatkan dua korban tewas dan empat kritis.

"Polisi profesional seharusnya menghentikan laju kendaraan tidak dengan tembakan yang mematikan,” ucapnya, Rabu (19/4).

Menurutnya, tindakan itu hanya memerburuk citra Polri yang saat ini memang sangat disorot oleh publik. “Ini sebuah kejadian yang merugikan di tengah upaya keras pimpinan Polri meraih trust (kepercayaan) dari publik,” tambah Amzulian.

Ombudsman berharap Kapolda menindak tegas anggota yang sudah bertindak seperti koboi jalanan tersebut. Apalagi mencabut nyawa orang tanpa alasan yang kuat. Amzulian berpendapat, Kapolda harus bertindak cepat supaya tidak berlarut dan dampak kasus ini akan merugikan institusi Polri.

“Harus juga dievaluasi kepatutan seorang anggota tersebut dalam memegang senjata api,” tuturnya.
Publik, ucap Amzulian, menantikan langkah profesional dan terbuka dari Kapolda Sumsel.

Sementara itu, Kapolda Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengatakan, untuk mengusut kasus penembakan itu dia telah memerintahkan tim propam untuk melakukan penyelidikan.


Ditambahkan Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Cahyo Budi Siswanto, anggota Propam Polda memang sedang menyeliki kejadian ini. "Untuk jenazah korban yang meninggal sudah diantar ke rumah duka. Anggota juga sudah melayat,” tutupnya. (DIY)

MENGENAL SOSOK AFRIZAL LEBIH DEKAT


Terusan – SeputarKito.com, Sederhana, optimis dan pantang menyerah, itulah sedikit gambaran sosok Afrizal selaku tokoh masyarakat Muratara.  Pria kelahiran tahun 1970 Desa Suka Menang, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) ini dikenal oleh masyarakat karena kesederhanaan dan sosialnya yang tinggi.

Kepedulian nya dalam bentuk sosial dikalangan masyarakat Muratara sudah tidak diragukan lagi, kerap kali masyarakat dilanda musibah ia hadir ditengah-tegah masyarakat. Aktif hadir ditengah keramaian masyarakat yang sedang menggelar hajatan. Selain itu, ia juga dikenal sebagai sosok yang sangat supel, mudah berbaur tanpa pandang bulu, dan mengayomi.

“Beliau sangat baik dengan siapapun, dan tidak pernah tebang pilih dalam tolong menolong. Siapapun yang membutuhkan bantuan pasti akan dibantunya. Lebih lebih orang lemah pasti lebih beliau prioritaskan dari kepentingannya sendiri.” Ungkap Tar (45), salah satu warga Terusan saat dimintai pendapat tentang Afrizal.
Hidup dari kalangan keluarga yang sederhana dan kelas menengah, Anak dari Muhammad Akip ini, memiliki motto hidup, kekalahan adalah kemenangan yang tertunda atau kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

Menurutnya, Terkadang kegagalan terasa menyakitkan lebih-lebih yang diharapkan jauh dari kenyataan. Tak ayal, kegagalan membuat hidup seseorang menjadi jatuh terpuruk dalam keputusan, namun ia berpesan kegagalan itu wajar dan semua orang pasti mengalaminya.

“Menurut mamak, kegagalan bukan akhir dari segalanya, namun merupakan proses dari lahirnya keberhasilan. Semakin kita terus berusaha memperbaiki setiap kegagalan, yakin lah keberhasilan akan sampai didepan mata,” pesan suami Khasanah Martiah.

Mantan aktivis (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia) PMII, (Remaja Masjid) Risma, dan Rismen ini pun mengingatkan bahwa manusia tidak akan mencapai titik puncak keberhasilan tanpa pernah jatuh dalam titik yang paling bawah. Selain itu, Ia mengibaratkan, kegagalan dan keberhasilan bak bola basket, semakin tinggi ia dijatuhkan maka semakin tinggi ia memantul ke atas.

Sama dengan yang dialami selama hidupnya. Seperti keberadaannya saat ini bukan serta merta diraih tanpa kegagalan. Selain kegagalan, alumnus SD Negeri Sukamenang tahun 1984 dan alumnus MTs Negeri 1 Lubuklinggau ini juga mengalami banyak kesulitan dalam menempuh pendidikan ahir dan S1.

“Setelah lulus MTs, waktu itu mamak sangat ingin bisa sekolah di (Pendidikan Guru Agama) PGA. Mamak pun mencoba mendaftar ke sekolah PGA Bengkulu tahun 1991. Sangat disesalkan waktu tes pertama mamak tidak lulus,” kenangnya sambil menghela nafas. Akhirnya sekolah Tridarma menjadi alternatif terakhir yang ditempuhnya.

Sedikit diceritakannya, saat menempuh pendidikan di Tridarma ia hanya bertahan selama enam bulan, karena ia berubah pikiran ingin mendalami agama Islam, bapak dari lima orang puteri ini pun memutuskan untuk mengakhiri pendidikan di Tridarma dan meneruskan pendidikan di Pondok Pesantren Salaf, yaitu Pesantren Darus Salam Bengkulu.

Tidak berhenti sampai di sini, keinginannya untuk mengenyam pendidikan di PGA tak pernah pupus. Tanpa putus asa, usai nyantri selama tiga tahun, ia pun kembali mendaftarkan diri di PGA Bengkulu.

“Alhamdulillah, sekalipun banyak mengalami kesulitan, cita cita mamak bisa terwujud.” Ucapnya bangga. Tak hanya diterima menjadi siswa PGA, saat itu ia mampu menjadi pelajar yang cukup berprestasi. Selain memiliki nilai Akademik yang cukup baik, ia juga aktif di Organisasi kesiswaan dan pernah menjabat sebagai pengurus pramuka (Dewan Kerja Daerah Provinsi) DKD Bengkulu selama sembilan tahun.

Tidak hanya dalam dunia pendidikan, kegigihannya dalam mewujudkan cita-cita juga tercermin dalam dunia politik. Terbukti dua kali gagal mencalonkan diri sebagai dewan daerah Kabupaten Musirawas pada tahun 2009 dan 2014, tak membuat alumni (Institute Agama Islam Negeri) IAIN Bengkulu ini putus asa.

“Sesuai motto tadi, jadi berapa pun angka kegagalan atau kekalahan, peluang kemenangan pasti menanti, so jangan sia-siakan kesempatan itu.” Tegasnya lugas.

Sebelumnya, Mantan Kepala Desa (Kades) Desa Sukamenang ini, aktif menjadi ketua Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI). Di tahun 2002-2008, ia mulai aktif menjadi kader Golongan Karya (Golkar). Kemudian di tahun 2004 ia menjadi pimpinan Partai Golkar di kecamatan Karang Jaya.

Dua kali gagal nyaleg tak menghentikan langkahnya dalam berkecimpung di dunia politik. Justru berkat kegigihan dan kesabarannya, saat ini ia dipercaya menjabat sebagai ketua DPD Perindo Muratara priode 2016-2021.


Penulis: Dwi Irmayanti